Assalamu’alaikum Wr. Wb.
“Di Internet kini sudah beredar sebuah film yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya ditahun 2008 ini, apa lagi kalau bukan Ayat-Ayat Cinta”
Film yang seharusnya tayang perdana tanggal 28 Februari ini, sudah bisa dinikmati di Internet. Para pengagum Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman Elshirazy ini pasti sudah tidak sabar untuk segera menyaksikan Film yang konon biaya pembuatannya mencapai 7 Miliyar Rupiah ini.
Saya sendiri termasuk salah satu dari jutaan orang yang menunggu tayang perdana Film ini. Berkali-kali saya harus menelan kekecewaan karena tanggal tayang film ini selalu di undur dengan berbagai macam alasan.
Tapi ternyata film ini sudah bisa didownload secara gratis di internet (maaf, saya tidak bisa memberitahukan nama situsnya). Ukuran dari film ini sendiri sekitar 1,1 Gb. Tentu ada yang bertanya, apakah saya senang mendengar berita ini? Jawabannya tidak. Saya adalah orang yang sangat menghargai hasil karya seseorang. Ketika kita mendownload film tersebut, maka kita tak ubahnya seperti seorang pencuri yang mengambil uang orang lain sebesar 7 miliyar (disesuaikan dengan biaya pembuatan film ini). Orang-orang masih banyak yang beranggapan kalau mencuri itu adalah mengambil suatu barang yang nyata (dapat diraba / dirasakan) tanpa sepengetahuan pemiliknya, sedangkan mengambil data baik itu film, lagu, ataupun software bukan termasuk tindak pencurian karena barang yang diambil tersebut tidak nyata (tidak bisa diraba / dirasakan). Saya sendiri menilai sesuatu itu bukan dari apakah ia bisa diraba atau tidak, tetapi seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membuat barang tersebut. Kalau kita melihatnya dari sudut pandang seperti ini, maka pasti kita akan berpikir bahwa lebih baik mencuri sebuah mobil Mar-c seharga 500 juta dari pada mendownload film ini. Kalaupun muncul pikiran gila saya untuk mendownload film ini, saya rasa itu bukanlah perkara yang sulit bagi saya, secara koneksi internet yang saya miliki memadai untuk mendownload film sebesar ini, paling hanya menunggu beberapa jam saja maka film ini sudah bisa saya saksikan sebelum tayang perdana di bioskop, tapi hal tersebut tidak mungkin saya lakukan.
Terus terang, saya merasa kasihan dengan Mas Hanung Bramantyo (sutradara film ini), betapa tidak dia adalah sutradara yang membuat film layar lebar bernuansa islami pertama di indonesia (kalau saya tidak salah). Selain itu perjuangan dia untuk membuat film ini tidaklah mudah. Proses pengambilan gambar yang seharusnya dilakukan di mesir, akhirnya harus dipindahkan di india. Pencairan uang dari produser pun dirasa lambat, sehingga proses pengambilan gambar jadi tertunda, akibatnya banyak aktor dan aktris pendukung film ini yang “marah-marah” kepada beliau karena jadwal kegiatan mereka harus dirubah. Sebenarnya masih banyak kendala-kendala yang dia hadapi, tapi tidak dapat saya tulis semua disini. Kalau ingin mengetahui suka duka yang beliau rasakan sewaktu proses pengambilan gambar bisa di baca di sini.
Teman-teman saya sendiri sudah banyak yang mendownloadnya, bahkan saya sempat melihat sekilas film ini. Sayapun sudah berkali-kali mengingatkan mereka untuk tidak menonton film ini sebelum waktunya karena termasuk tindak kejahatan, tapi mereka malah mengindahkan peringatan saya. Saya sarankan kepada teman-teman sekalian, hargailah karya cipta seseorang. Ingatlah betapa sulitnya mas Hanung membuat film ini. Teman-teman penggemar novel ayat-ayat cinta pasti sudah tidak sabar untuk menyaksikan film ini, saya pun juga begitu. Kita seharusnya sabar saja menunggu penayangan perdana film ini, tinggal beberapa hari lagi kok, masak kita gak bisa nunggu sih?
59 Komentar Sejauh Ini
Leave a reply