Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tulisan ini dibuat untuk diikutkan dalam lomba Menulis Blog “Indonesia, Go Open Source! (IGOS) Summit 2″ yang diadakan oleh FOSS-ID. Saya pribadi membuat tulisan ini semata-mata bukan untuk menjadi juara, tetapi untuk ikut serta mengkampanyekan program Pemerintah dalam menggunakan Free/Open Source Software. Mengingat potensi pembaca blog yang belakangan ini semakin banyak, maka ada baiknya rekan-rekan Blogger sekalian turut membuat tulisan tentang Free/Open Source Software di blog masing-masing. Hadiahnya lumayan buat jajan sebulan, kalau menang ya ucapkanlah Alhamdulillah, kalau kalah ya gak masalah, yang penting kita telah ikut serta dalam mengajak masyarakat untuk bersama-sama menggunakan Free/Open Source Software guna meningkatkan kemandirian bangsa.
Open Source Software (Perangkat Lunak Sumber Terbuka) adalah perangkat lunak yang bebas untuk digunakan, dipelajari, diperbaiki dan dimodifikasi serta dapat didistribusikan kembali asal tetap menyertakan lisensi awal perangkat lunak tersebut. Open Source Software adalah kebalikan dari Software propriatery. Open Souce software bukanlah perangkat lunak yang gratis, ada kalanya pengguna diharuskan membayar untuk menggunakan software yang dimaksud. Open Source Software juga bisa diartikan sebagai Free Software, kebanyakan orang salah menilai antara Free Software (Perangktat Lunak Bebas) dengan Freeware (Perangkat Lunak Gratis). Freeware dapat didefinisikan sebagai Perangkat lunak gratis dengan kode sumber tertutup, sehingga orang lain tidak bisa mempelajari, memodifikasi, dan memperbaiki kode sumber perangkat lunak tersebut. Untuk lebih memahami uraian diatas, berikut saya berikan analogi yang mudah dipahami:
Di suatu sekolah, hiduplah seorang siswa yang malas dan bodoh dalam menerima pelajaran, sebut saja namanya Budi. Ia terancam di Droup Out dari sekolah lantaran sudah 2 tahun tidak naik kelas, jika tahun ini Budi tetap tidak menunjukkan perubahan, maka dengan sangat terpaksa pihak sekolah akan mengeluarkannya. Tentu saja Budi tidak ingin dikeluarkan karena dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk tetap bersekolah, apalagi setiap tahunnya biaya pendidikan semakin mencekit leher, dia tidak ingin kerja keras orang tuanya berakhir begitu saja. Di Kelas Budi, terdapat 4 orang anak yang sangat Cerdas, mereka adalah Richard, Stevie, Fadil, dan Lintang. Budi pun berinisiatif untuk meminta bantuan mereka dalam menyelesaikan masalahnya. Datanglah dia pada Richard untuk memohon bantuan, Richard bersedia membantu, asal Budi bisa memenuhi 2 syarat yang dia berikan:
1. Budi harus membayar sejumlah uang kepada Richard sebagai imbalan atas usahanya
2. Richard hanya memberikan jawaban atas setiap Tugas yang diberikan oleh Guru. Budi tidak perlu tahu bagaimana proses pengerjaan soal hingga mendapatkan jawaban yang benar, dia cukup terima jadinya saja. Hal ini dilakukan karena Richard tidak ingin ada orang yang bisa menyamai kepandaiannya.
Dengan sedikit keterpaksaan, Budi pun menyetujui syarat tersebut. Hari demi hari Budi lalui, seminggu, sebulan telah terlewati, sampai di sini Budi tidak mendapatkan kendala berarti, dia sangat senang dengan keadaannya yang sekarang, cukup terima jawaban saja maka nilai tinggi dari guru pun didapatkannya. Begitu menginjak bulan ketiga masalah mulai muncul, Budi sudah tidak sanggup lagi membayar sokongan kepada Richard karena memang biaya yang dipatok sangat besar. Akhirnya dia pun memutuskan kontrak dengan Richard.
Budi tidak patah arang, dia harus mencari cara agar bisa mendapatkan Nilai tinggi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Akhirnya dia menemui Stevie. Stevie bersedia membantu Budi tanpa dipungut biaya sepeser pun, asal Stevie hanya memberikan Jawaban soalnya saja kepada Budi. Sama seperti Richard, hal ini dilakukan Stevie agar Budi tidak menyamai kepandaiannya. Budi pun menyetujuinya, dia beranggapan bahwa hanya orang bodohlah yang tidak mau menerima jawaban atas tugas-tugas sekolah secara gratis. Setiap harinya kerja budi hanya menunggu jawaban saja, hidupnya sangat santai, tak tampak dari raut wajahnya keinginannya untuk merubah kebiasaan buruk ini. Ketika salah seorang Guru memeberikan pekerjaan rumah (PR) baru kepada siswa-siswanya, Budi pun langsung mengedipkan mata sebelah kirinya sebagai isyarat kepada Stevie, Stevie pun mengangukkan kepala tanda mengerti. Sepandai-pandainya tikus berlari, pasti akhirnya ketangkap kucing juga, begitupun dengan Budi, ia ketahuan orang tuannya telah menerima jawaban dari Stevie atas semua tugas-tugas yang diberikan oleh Gurunya. Air mukanya pun berubah, kini telah tampak penyesalan di wajahnya. Budi pun berjanji pada orang tuanya untuk merubah semua kebiasaan buruknya, ia tak akan lagi menerima jawaban dari seseorang tanpa tahu bagaimana proses pengerjaannya. Ia ingin menjadi orang yang pandai, yang bisa mengharumkan nama orang tuannya, bagitu katanya membatin.
Budi pun pergi menemui Fadil untuk minta diajarkan cara mengerjakan setiap soal yang diberikan oleh Guru. Fadil pun bersedia membantu, asal Budi bersedia memberikan sejumlah uang kepadanya. Karena harga yang ditawarkan Fadil lebih masuk akal ketimbang harga yang dipatok oleh Richard, maka Budi pun menyetujuinya, revolusi pun dimulai dari sekarang.
Setiap hari Budi pergi ke rumah Fadil untuk belajar, semua mata pelajaran yang yang sulit di Pelajarinya, baik itu Fisika ataupun Kimia. Harus diakui, Budi sangat sulit untuk beradaptasi dengan dunia barunya ini, maklum saja selama ini Budi adalah orang yang tahu terima jadi, ia hanya tahu enaknya saja, tidak mau melakukan aktivitas pembelajaran yang sedikit sulit tapi justru meningkatkan kreativitas dan produktivitas seseorang. Tapi itu dulu, sekarang ia ingin berubah, ia ingin bisa menghasilkan sesuatu yang berguna nantinya. Hari demi hari dilalui, perlahan-lahan tetapi pasti Budi mulai bisa menguasai semua mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah. Hingga suatu ketika Budi memeriksa tabungannya yang tersisa, bukan main kagetnya ketika didapatinya semua uang tabungan telah habis terpakai. Bagaimana mungkin Budi bisa membayar jasa Fadil dengan kondisi keuangan seperti ini? Tidak mungkin ia meminta uang pada orang tuanya, Ayahnya hanya seorang tukang becak yang penghasilannya tidak tetap, sedangkan ibunya hanya seorang buruh cuci di rumah-rumah para tetangga. Kontan Budi pun menangis sejadi-jadinya, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, padahal ujian kenaikan kelas tinggal sebentar lagi. Hilang sudah semua cita-citanya, pengorbanan orang tuanya selama ini menjadi sia-sia.
Satu minggu sudah Budi tidak masuk sekolah, dia telah putus asa, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di saat-saat yang genting seperti ini, tanpa pernah diduga sebelumnya datanglah sosok Lintang di hadapan Budi. Memang Lintang bukanlah sosok yang populer seperti Richard di sekolah karena lintang sangat pandai dalam membentengi diri, tak heran jika sampai saat ini Lintang tidak tertular “Virus” kapitalisme seperti Richard. Lintang pun datang memberikan solusi kepada Budi, ia mengatakan bahwa dia bisa membantu Budi tanpa perlu membayar atas usaha yang telah dia berikan, semua ini dia berikan secara suka rela, karena pada dasarnya setiap apa yang yang dihasilkan oleh Otak (pemikiran) itu tidak boleh di sembunyikan pada orang lain, tetapi harus di sebarluaskan tanpa biaya agar setiap orang bisa merasakan manfaatnya. Seketika semangat Budi yang telah meredup kembali berapi-api, dia tidak menyangka jika dalam keadaan seperti ini masih ada orang yang mau membantu.
Budi pun semakin giat dalam belajar, tak kenal siang ataupun malam asalkan ada waktu kosong pasti diisi dengan membaca dan berlatih mengerjakan soal. Semakin hari kemampuan Budi semakin terasah, jika guru menyuruh para siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, maka Budi lah yang terlebih dahulu menawarkan diri. Ketika ujian kenaikan kelas tiba, Budi hanya tertawa cengar-cengir membaca soal tersebut, soal tersebut dirasa terlalu mudah olehnya. Beda halnya dengan Richard, ketika ditanya bagaimana cara membasmi “Virus” kapitalisme dalam masyarakat, dia tidak tahu mau menjawab apa karena memang pada dasarnya Richard sendiri telah tertular “Virus” Kapitalisme. Akhirnya, Budi pun tidak jadi dikeluarkan dari sekolah karena semua nilai mata pelajarannya mendapat angka 9. 15 tahun sudah berlalu, kini Budi telah menjadi Staf pengajar di salah satu perguruan tinggi terkemuka dalam usia yang relatif masih muda. Dari bebagai macam rumus yang telah dia pelajari, Budi berhasil menyederhanakan rumus-rumus fisika yang rumit menjadi rumus-rumus yang sederhana sehingga lebih mudah untuk di pelajari.
Itulah tadi analogi berbagai lisensi Perangkat Lunak. Tokoh Budi di sini dapat di terjemahkan sebagai masyarakat Indonesia yang masih saja menggunakan Perangkat Lunak Berbayar dengan kode sumber tertutup / propriatery Software (diperankan oleh Richard). Pemakain software seperti ini hanya akan membuat masyarakat tidak produktif dan mandul akan kreativitas, selain itu untuk penggunaannya juga harus mengeluarkan anggran yang tidak sedikit. Nah sekarang kita ditawarkan dengan perangkat lunak gratis dengan kode sumber tertutup atau lebih dikenal dengan istilah Freeware (diperankan oleh Stevie), software seperti ini memang dapat menekan anggaran belanja kita, tapi sama dengan propriatery tadi, pemakaian software seperti ini hanya akan mengakibatkan ketergantungan kepada vendor software tersebut.
Software Open Source Berbayar (diperankan oleh Fadil) datang dengan membawa konsep berbeda, setiap penggunanya bebas melihat, mempelajari, dan memodifikasi kode sumber software tersebut. Setidaknya software seperti ini jauh lebih baik dari dapada Software propriatery dan Freeware karena dengan menggunakannya berarti kita turut andil dalam pengembangan software tersebut. Tapi apakah perlu Indonesia membeli lisensi untuk bisa mengunakan Software Open Source? sedangkan Software Open Source gratis banyak bertebaran di Internet? Free/Open Source Software (diperankan oleh Lintang) pun muncul kepermukaan disaat yang tepat, Indonesia sekarang membutuhkan medel Software seperti ini untuk membangun infrastruktur TI-nya (Teknologi Informasi). Free/Open Source Software bukanlah sebuah jalan alternatif (kita tahu bersama bahwa konotasi dari alternatif berarti masih ada yang lebih baik dari itu), tapi Free/Open Source Software adalah sebuah solusi cerdas disaat tidak stabilnya perekonomian Indonesia. Free/Open Source Software (FOSS) telah mengantarkan kita pada kemerdekaan, menggunakaannya berarti telah ikut memerangi kapitalisme Perangkat Lunak. Vendor-vendor propriatery Software hanya akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari negara-negara berkembangan seperti Indonesia, maka sudah saatnya lah kita keluar dari perangkap Kapitalisme mereka. Menggunakan FOSS berarti telah mengantarkan Indonesia pada kemandirian, kita tidak perlu lagi bergantung pada siapa-siapa untuk membangun Infrastruktur TI, segala permasalahan yang muncul dapat di tanggugulangi bersama. Dan dengan sendirinya Indonesia telah menjadi negara yang independen, bisa menopang kehidupannya sendiri, dan tetap tidak akan tergoyahkan meskipun perekonomian dunia sedang tidak stabil.
Bagaimana, sudahkah anda menggunakan Free/Open Source Software?
Malang, 27 April 2008
Tags: igossummit2
Tulisan ini dibuat untuk diikutkan dalam 



37 Komentar Sejauh Ini
Leave a reply