Lima tahun yang lalu, disebuah sekolah Menengah Pertama, seorang guru yang sangat bersahaja sedang menjelaskan tentang suatu pelajaran pada murid-muridnya yang berjumlah 38 orang. Guru tersebut (kala itu) adalah seorang lelaki lajang yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dia sangat dikagumi murid-muridnya karena cara mengajarnya yang ciamik. Tidak hanya sampai disitu, dia pun paham betul bagaimana menghidupkan suasana kelas, baik melalui joke-joke segar maupun melalui metode lain yang bisa membangkitkan gairah belajar siswa. Dan yang lebih hebatnya, guru yang satu ini juga fasih berbahasa Ingris dan Arab, sebuah kelebihan yang sangat jarang dimiliki seorang pendidik hingga saat ini.
Kelas yang diajarkannya kali ini pun bukan sembarang kelas, karena ini adalah kelas unggulan, tempat dari semua anak-anak cerdas berkumpul. Bangku kelas ini hanya diduduki oleh 38 siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dari tiga ratusan siswa seangkatan mereka. Ya, sekolah ini masih mengunakan sistem kelas unggulan, yang katanya supaya siswa-siswa di luar kelas unggulan bisa terpacu semangatnya untuk belajar. Tapi toh kenyataannya sama saja.
Setelah para murid-muridnya puas mendengarkan ceramah didalam kelas, sang guru pun membuat diskusi. Tak ada pembagian regu atau kelompok, semua siswa harus bisa mengungkapkan argumennya masing-masing. Guru yang bersahaja itu pun melemparkan sebuah penyataan yang membuat semua siswanya sedikit tercengang, “Jika sekiranya puasa itu tidak diwajibkan ataupun tidak ada anjurannya dalam agama, apakah perlu kita berpuasa?” Seisi kelas terdiam beberapa saat, hingga akhirnya suara seorang anak laki-laki memecah kesunyian itu, “Jika memang puasa itu tidak dianjurkan dalam agama, maka sebaiknya tidak usah kita menjalaninya. Toh puasa itu hanya membuat kita sengsara, dan tidak ada seorang manusia pun yang ingin sengsara.”
Read the rest of this entry »
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hari ini, 30 Agustus 2008, Komunitas Blogger Universitas Brawijaya (BloggerUB) bekerja sama dengan Kelompok Karya Tulis Ilmiah Fakultas perikanan Dan Ilmu Kelautan mengadakan seminar blog dengan tema “Sambal Tulisan Dalam Sepiring Blog”. Saya pribadi, terlepas dari saya adalah seorang member BloggerUB, merasa sedikit kurang “sreg” dengan tema yang diusung pada seminar kali ini. Padanaan kata yang diambil oleh panitia seminar kurang tepat dalam menggambarkan isi tema secara keseluruhan. Seperti yang kita ketahui bersama, sambal dalam sepiring makanan bukanlah sesuatu yang primer, tetapi sesuatu yang sekunder atau bahkan tersier. Ada atau tidaknya sambal dalam sepiring makanan tidak akan mengurangi cita rasa makanan itu sendiri. Dan jika toh berpengaruh, maka pengaruh sambal itu pun tidak signifikan dalam menambahkan cita rasa suatu makanan. Berbeda halnya dengan nasi, ada tidaknya nasi sangat besar pengaruhnya terhadap cita rasa suatu makanan. Begitu juga dengan tulisan pada blog. Tulisan adalah “nyawa” bagi blog. Ada tidaknya tulisan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu blog. “Sambal-Tulisan” (Sekunder-Primer) disandingkan dengan “Sepiring-Blog” (Primer-Primer) rasanya kurang sinkron alias pemilihan diksinya kurang tepat.
Terlepas dari semua itu, jalannya seminar kali ini dapat dikatakan hidup. Para peserta sangat antusias mendengarkan materi yang disampaikan oleh Mas Enda nasution dan Mas Budi Putra. Cara mereka membawakan materi pun sangat menarik, tidak kaku, dan interaktif. Ruang yang digunakan dalam seminar ini -Hall Room Inkubator Bisnis UB- terisi penuh oleh para peserta yang sudah mengenal blog maupun yang ingin tahu tentang blog.
Menariknya, para peserta seminar kali ini tidak hanya didominasi oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) saja, tetapi rekan-rekan blogger dari UIN Malang, BloggerNgalam.com, dan bahkan -ini yang membuat saya terkejut- rekan-rekan blogger surabaya yang tergabung dalam komunitas TuguPahlawan.com (TPC) pun rela datang jauh-jauh ke Malang untuk mengikuti seminar ini. Salut buat rekan-rekan blogger TPC.
Read the rest of this entry »