13
Sep

Makanan Yang Menangis

   Posted by: Abdul Hair   in Celoteh, Opini, Sosial

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mungkin apa yang dikatakan oleh para orang tua dulu bahwa makanan yang tidak habis disantap akan mengeluarkan air mata itu benar adanya. Tapi tidak berarti bahwa makanan tersebut memang benar-benar menangis. Hemat saya, ini adalah sebuah kata bijak yang disalah artikan untuk menakut-nakuti anak-anak agar menghabiskan makanan yang ada di piring mereka.

Ini memang sebuah pemikiran yang cenderung konservatif, namum masih relevan dengan kondisi saat ini. Sudah sering terjadi diacara jamuan makan kalau para tamu agak sedikit “enggan” atau “gengsi” untuk menghabiskan makanan yang ada di piring mereka. Motifnya beragam, takut dibilang lapar, tidak sesuai selera, bahkan ada yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sebuah tren yang “wajib” untuk diikuti.

Sudah pasti, makanan yang tak habis ini akan dibuang ke tong sampah dan menghasilkan bau busuk yang akan mengundang berbagai macam kuman penyakit. Ironisnya, makanan -atau lebih tepatnya sisa makanan- ini diambil oleh para pemulung untuk dikonsumsi kembali. Bukan dimakan oleh mereka, namun dijual di pasar dengan harga yang miring, dan tentu saja kita yang membelinya. Sisa makanan yang dijual kembali kebanyakan dalam bentuk daging, karena memang daging jauh lebih awet ketimbang nasi.

Soal rasa, mungkin tak ada perubahan yang signifikan, apalagi jika sudah dicampur dengan berbagai macam bumbu dapur, sangat sulit untuk membedakannya. Dan mungkin kita tak pernah menyangka jika makanan yang kita santap sehari-hari itu sebenarnya adalah makanan sisa yang diambil di tong sampah. Sungguh, saya tak bisa membayangkannya.

Pemberitaan akan hal ini nyaring terdengar beberapa hari belakangan. Mulai dari mendatangi sumber makanannya, tata cara memasaknya, hingga menjualnya kembali kepada konsumen. Semua dijelaskan secara sistematis. Polisi pun tak tinggal diam begitu mendengar pemberitaan ini, para pelaku langsung diciduk dari TKP untuk menjadi penghuni hotel prodeo. Benar-benar sigap dan tanggap.

Lucunya, banyak orang yang menjustifikasi ulah para oknum yang tak bertanggung jawab itu, tapi mereka tak pernah menyadari bahwa sebenarnya akar mula dari semua ini adalah diri mereka sendiri dan termasuk saya tentunya. Jika sekiranya kita tak pernah menyisakan makanan, apakah hal seperti ini akan terjadi?

Kalau sudah begini, tuding menuding tak dapat dihindarkan lagi. Masing masing pihak berusaha mempertahankan argumen, tak ada yang mau dikatakan sebagai biang keladi. Dan apa yang kemudian terjadi? Ternyata sisa-sisa makanan menjadi sedih dan akhirnya mengeluarkan air mata. Bukan karena dirinya dibuang di tong sampah, tetapi karena pertengkaran antar manusia itu dipicu dari dirinya.
Wallahu’alam.

Nb: Gambar diambil dari sini

Tags: , , , ,

This entry was posted on Saturday, September 13th, 2008 at 1:42 pm and is filed under Celoteh, Opini, Sosial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Komentar Sejauh Ini

 1 

Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Windows Windows XP

Makanan tu harus habis lah…kasian orang2 yg gabs makan…kasian petani yg panen beras…dll

So mending ambil dikit drpd bnyk tp sisa,,ya kan?! hehe

[Reply]

September 13th, 2008 at 2:59 pm
 2 

Using Opera Mini Opera Mini 9.50

Saia juga dapat nasehat seperti dari ortuku dan alhamdulilah..sering lupa nasehat beliau, hiks..

[Reply]

September 13th, 2008 at 5:27 pm
 3 

Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP

wah, postingan yang kritis dan menggelitik, mashair. saya jadi inget setiap kali ada orang menggelar pesta. sedemikian murahnya harga bersuap-suap nasi, padahal di luar sana, masih banyak orang yang mengalami kesulitan dalam mencari sesuap nasi.

sawali tuhusetya’s last blog post..Tayangan TV yang Bias Gender

[Reply]

September 13th, 2008 at 6:39 pm
 4 

Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows Vista

Asal jangan sampai buangan hotel yang didaur ulang lalu dipasarkan lagi. Masaklah makan seperlunya, dan habiskan … jangan mubazir.

Ersis Warmansyah Abbas’s last blog post..Menuju Rumah Allah

[Reply]

September 13th, 2008 at 8:52 pm
 5 

Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0b5 on Linux Linux

Sekarang kalau kita makan harus benar2 dihabiskan, kalau tidak bisa didaur ulang lagi tuuh :D

[Reply]

September 15th, 2008 at 4:28 am
 6 

Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.2 on Windows Windows Server 2003

duh….. bangsa ini mo jadi apa yak klo spt itu trus … :)

wah bakalan, dilarang ma ortu neh buat jajan2 sembarangan …. :D

imbasnya pedagang pun akan was-was buat jualan…. apalagi konsumen, bakalan menaruh curigaan mulu

afwan auliyar’s last blog post..Review Sang Master …..

[Reply]

September 15th, 2008 at 12:25 pm
 7 

Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows Vista

Tega banget sih yang jual makanan sampah itu, pasti bo’ong kalo dia bilang ga tau daging2 itu udah jadi sampah, lha wong bau sama bentuknya aja udah ga karuan kok :(
siwi’s last blog post..Inspired Women

[Reply]

September 15th, 2008 at 4:28 pm
 8 

Using Safari Safari 525.13 on Mac OS Mac OS X

sebenernya itu karena kreativitas tau.. kalo dari situ juga dia bisa memberikan kesempatan kepada orang2 miskin buat makan daging.. which is itu barang mewah buat mereka..

tapi karena caranya salah seperti mencampurnya dengan bahan2 beracun seperti pewarna makanan dan formalin atau lainnya.. itu menjadi bersalah..

ridu’s last blog post..Ngabuburit + Lomba Foto Kayang di PIM 2

[Reply]

September 16th, 2008 at 11:54 am

Leave a reply

Nama (*)
eMail (Tidak Dipublikasikan) (*)
URL
Komentar