Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mungkin apa yang dikatakan oleh para orang tua dulu bahwa makanan yang tidak habis disantap akan mengeluarkan air mata itu benar adanya. Tapi tidak berarti bahwa makanan tersebut memang benar-benar menangis. Hemat saya, ini adalah sebuah kata bijak yang disalah artikan untuk menakut-nakuti anak-anak agar menghabiskan makanan yang ada di piring mereka.
Ini memang sebuah pemikiran yang cenderung konservatif, namum masih relevan dengan kondisi saat ini. Sudah sering terjadi diacara jamuan makan kalau para tamu agak sedikit “enggan” atau “gengsi” untuk menghabiskan makanan yang ada di piring mereka. Motifnya beragam, takut dibilang lapar, tidak sesuai selera, bahkan ada yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sebuah tren yang “wajib” untuk diikuti.
Sudah pasti, makanan yang tak habis ini akan dibuang ke tong sampah dan menghasilkan bau busuk yang akan mengundang berbagai macam kuman penyakit. Ironisnya, makanan -atau lebih tepatnya sisa makanan- ini diambil oleh para pemulung untuk dikonsumsi kembali. Bukan dimakan oleh mereka, namun dijual di pasar dengan harga yang miring, dan tentu saja kita yang membelinya. Sisa makanan yang dijual kembali kebanyakan dalam bentuk daging, karena memang daging jauh lebih awet ketimbang nasi.
Soal rasa, mungkin tak ada perubahan yang signifikan, apalagi jika sudah dicampur dengan berbagai macam bumbu dapur, sangat sulit untuk membedakannya. Dan mungkin kita tak pernah menyangka jika makanan yang kita santap sehari-hari itu sebenarnya adalah makanan sisa yang diambil di tong sampah. Sungguh, saya tak bisa membayangkannya.
Pemberitaan akan hal ini nyaring terdengar beberapa hari belakangan. Mulai dari mendatangi sumber makanannya, tata cara memasaknya, hingga menjualnya kembali kepada konsumen. Semua dijelaskan secara sistematis. Polisi pun tak tinggal diam begitu mendengar pemberitaan ini, para pelaku langsung diciduk dari TKP untuk menjadi penghuni hotel prodeo. Benar-benar sigap dan tanggap.
Lucunya, banyak orang yang menjustifikasi ulah para oknum yang tak bertanggung jawab itu, tapi mereka tak pernah menyadari bahwa sebenarnya akar mula dari semua ini adalah diri mereka sendiri dan termasuk saya tentunya. Jika sekiranya kita tak pernah menyisakan makanan, apakah hal seperti ini akan terjadi?
Kalau sudah begini, tuding menuding tak dapat dihindarkan lagi. Masing masing pihak berusaha mempertahankan argumen, tak ada yang mau dikatakan sebagai biang keladi. Dan apa yang kemudian terjadi? Ternyata sisa-sisa makanan menjadi sedih dan akhirnya mengeluarkan air mata. Bukan karena dirinya dibuang di tong sampah, tetapi karena pertengkaran antar manusia itu dipicu dari dirinya.
Wallahu’alam.
Nb: Gambar diambil dari sini





8 Komentar Sejauh Ini
Leave a reply